Selamat datang di SD Negeri 1 Silea, tempat terbaik bagi putra-putri Anda untuk menuntut ilmu, berinovasi, mengembangkan potensi, dan menanamkan nilai moral pancasila di Kabupaten Kolaka.
Mewujudkan generasi Wonua Mekongga yang cerdas, berakhlak mulia, peduli lingkungan, dan berkarakter Anak Indonesia Hebat
Untuk mencapai visi tersebut, SD Negeri 1 Silea mengemban misi sebagai berikut:
Kenali pendidik berkualitas kami yang membimbing putra-putri Anda dengan kesabaran, integritas, dan kompetensi tinggi.
Begitu bel pulang berbunyi dan halaman sekolah mulai sepi dari langkah kaki siswa, ruang guru SD Negeri 1 Silea justru baru mulai ramai. Para guru bersama kepala sekolah duduk melingkar, membuka forum Hari Belajar Guru dengan tema "Pembahasan Visi Misi Sekolah dan Pengelolaan Kinerja Guru dan Kepala Sekolah" pada Sabtu, 25 Juli 2026.Kegiatan ini digelar setelah jam belajar mengajar usai, sehingga tidak mengganggu proses pembelajaran di kelas. Seluruh dewan guru duduk bersama membahas dua agenda utama: mengkaji ulang visi dan misi sekolah, serta menyusun mekanisme pengelolaan kinerja guru dan kepala sekolah sesuai ketentuan yang berlaku.Forum semacam ini bukan sekadar rapat rutin. Di dalamnya, guru-guru menelaah kembali apakah visi dan misi yang selama ini tertempel di dinding sekolah masih relevan dengan kondisi peserta didik saat ini, atau justru perlu penyesuaian agar benar-benar menjadi arah yang dipegang bersama, bukan sekadar tulisan formalitas.Pembahasan pengelolaan kinerja menjadi bagian yang tidak kalah serius. Guru dan kepala sekolah bersama-sama meninjau bagaimana kinerja mereka dinilai, dipantau, dan ditingkatkan dari waktu ke waktu, mengacu pada aturan yang berlaku bagi tenaga pendidik dan kepala satuan pendidikan.Yang menarik dari kegiatan ini adalah waktunya. Bukan di jam kerja biasa, bukan pula di hari libur yang mengorbankan waktu istirahat guru secara total. Sekolah memilih memanfaatkan siang hari, setelah anak-anak pulang, sebagai ruang belajar bagi para pendidiknya sendiri.Pilihan ini mencerminkan cara pandang yang mulai bergeser di SDN 1 Silea. Guru tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga terus belajar — mengevaluasi diri, meninjau ulang arah sekolah, dan memastikan setiap kebijakan yang dijalankan benar-benar berpijak pada kebutuhan peserta didik, bukan sekadar mengikuti kebiasaan lama.Forum seperti ini juga membuka ruang bagi guru untuk saling bicara dari hati ke hati soal tantangan yang mereka hadapi di kelas. Sebab visi dan misi sekolah yang bagus di atas kertas tidak akan berarti banyak jika guru-guru yang menjalankannya tidak diberi ruang untuk turut merumuskannya.Kepala sekolah Ibu Hj. Indrawati Burhan, S.Pd memimpin langsung jalannya diskusi, memastikan setiap guru punya kesempatan menyampaikan pandangan sebelum forum mengerucut pada kesepakatan bersama.Hasil dari pembahasan ini nantinya akan menjadi acuan dalam menyusun program kerja sekolah ke depan, termasuk penyesuaian target pembelajaran dan indikator kinerja yang lebih jelas bagi guru maupun kepala sekolah. Sekolah berencana menindaklanjuti forum ini dengan pertemuan lanjutan untuk merumuskan poin-poin visi dan misi yang telah disepakati menjadi dokumen resmi.Bagi orang tua siswa, kegiatan semacam ini mungkin tidak terlihat langsung dampaknya di hari yang sama. Tapi arah yang dibicarakan siang itu di ruang guru — soal visi sekolah, soal bagaimana kinerja guru dipantau dan ditingkatkan — pada akhirnya akan sampai juga ke ruang kelas, lewat cara guru mengajar dan cara sekolah mengelola proses belajar anak-anak mereka.SDN 1 Silea menegaskan komitmennya untuk terus menjadikan Hari Belajar Guru sebagai agenda berkelanjutan, bukan kegiatan sekali jalan sehingga dapat meningkatkan kompetensi profesional guru yang pada akhirnya bermuara pada kualitas pembelajaran peserta didik.
SD Negeri 1 Silea memperingati Hari Anak Nasional Tahun 2026 dengan mengusung tema "Sayang Anak, Lindungan dan Bangun Masa Depan". Perayaan digelar sederhana, tanpa panggung besar atau tamu kehormatan berderet, tapi halaman sekolah pagi itu penuh tawa anak-anak yang berebut jadi juara.Rangkaian acara dibuka dengan senam sehat bersama. Seluruh siswa berbaris di lapangan, mengikuti gerakan yang dipandu dari depan, sebelum akhirnya bubar barisan untuk lanjut ke sesi lomba yang sudah dinanti sejak pagi.Empat lomba lain menyusul setelah senam: makan kerupuk, lari kelereng, sepak bola mini, dan bola keranjang. Lomba makan kerupuk, seperti biasa, jadi yang paling ramai tepuk tangan — kerupuk digantung di tali rafia, anak-anak mengejar dengan tangan terikat di belakang, sebagian berhasil menggigit dalam hitungan detik, sebagian lain harus mencoba berkali-kali sampai teman-temannya tertawa geli menonton.Lari kelereng menuntut hal berbeda: bukan kecepatan kaki, melainkan kesabaran menjaga keseimbangan sendok agar kelereng tidak jatuh. Beberapa siswa terlihat berjalan pelan-pelan dengan wajah serius, sementara yang lain justru berlari kencang dan kelerengnya menggelinding di tengah jalan. Sepak bola mini dan bola keranjang mengambil porsi paling ramai peserta — disambut sorak-sorai dari pinggir lapangan dari para orang tuas siswa.Hari Anak Nasional diperingati setiap 23 Juli sebagai momentum mengingatkan bahwa anak-anak berhak atas perlindungan, tumbuh kembang yang layak, serta ruang untuk bermain dan belajar. Tema tahun ini, "Sayang Anak, Lindungan dan Bangun Masa Depan", ingin menegaskan bahwa kasih sayang dan rasa aman adalah dasar sebelum bicara soal prestasi.Di SD Negeri 1 Silea, pesan itu diterjemahkan lewat cara paling sederhana: memberi anak-anak hari untuk bermain bersama, tanpa tekanan nilai atau target akademik. Guru-guru berperan sebagai wasit sekaligus penyemangat, berpindah dari satu titik lomba ke titik lain sambil sesekali membantu anak yang kesulitan mengikat tali sepatu atau merapikan sendok kelereng yang terjatuh.Orang tua yang sempat menjemput lebih awal pun ikut menonton dari pinggir pagar sekolah, sebagian merekam video anaknya berlomba lewat ponsel. Suasana yang tercipta bukan kompetisi ketat, melainkan kebersamaan — pemenang dan yang belum menang sama-sama pulang dengan cerita untuk diceritakan di rumah.Pihak sekolah berharap kegiatan semacam ini bisa terus digelar setiap tahun sebagai bagian dari kalender kegiatan siswa, tidak hanya untuk merayakan Hari Anak Nasional, tapi juga menjaga agar sekolah tetap menjadi tempat yang menyenangkan untuk didatangi anak-anak setiap pagi.
Truk pemadam kebakaran merah menyala itu belum juga berhenti sempurna, tapi puluhan siswa SD Negeri 1 Silea sudah berebut posisi paling depan. Hari itu, Sabtu, 18 Juli 2026, menjadi penutup rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah — sekaligus awal dari sesuatu yang baru: kerja sama SDN 1 Silea dengan Pemadam Kebakaran Kabupaten Kolaka untuk mengedukasi siswa, orang tua, dan guru tentang mitigasi bencana kebakaran.Petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Kolaka datang bukan sekadar untuk pamer truk. Mereka membawa materi lengkap: profesi pemadam kebakaran itu apa, tugas dan fungsinya, alat-alat yang biasa mereka bawa ke lokasi kejadian, teori dasar tentang bagaimana api bisa membesar, sampai nomor telepon yang harus dihubungi warga jika rumah atau lingkungan sekitar terbakar. Antusiasme jadi kata yang paling pas menggambarkan suasana pagi itu. Bukan hanya murid — orang tua yang datang mendampingi anaknya di hari terakhir MPLS pun ikut merapat, mendengarkan penjelasan soal alat pemadam dan cara kerja sirine. Para guru yang biasanya berdiri di depan kelas, hari itu justru duduk di antara siswa, sama-sama menyimak penjelasan petugas tentang bagaimana api kecil di dapur bisa berubah jadi kebakaran besar kalau salah penanganan.Bagian yang paling ditunggu justru datang di penutup acara. Anak-anak diajak naik dan berkeliling menggunakan truk pemadam kebakaran, sesuatu yang jarang mereka rasakan meski truk merah itu sering lewat di jalan kampung. Dan ketika petugas menyemprotkan air dari selang, sekolah yang tadinya tenang berubah jadi riuh. Anak-anak berlarian, menjerit senang, saling siram — persis seperti sedang bermain hujan-hujanan, hanya saja hujannya datang dari selang pemadam kebakaran.Momen itu sederhana, tapi mengena. Pelajaran tentang bahaya kebakaran yang tadinya terasa serius dan sedikit menakutkan, ditutup dengan tawa dan baju basah. Anak-anak pulang bukan hanya membawa pengetahuan soal nomor darurat kebakaran, tapi juga kenangan naik truk damkar sungguhan.Program ini disebut sebagai milestone awal, artinya bukan kegiatan sekali jadi. SDN 1 Silea dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Kolaka merancang kolaborasi ini sebagai langkah pembuka dari edukasi mitigasi bencana yang lebih panjang. Kegiatan ini diagendakan akan dilakukan 2 (dua) bulan sekali dengan kurikulum yang telah disepakati, program ini disusun secara sistematis dan berkelanjutan dan di akhir tahun ajaran nanti akan diberikan penyematan kepada pemadam kebakaran cilik.Bagi sekolah yang berada di lingkungan padat rumah kayu dan semi permanen seperti banyak ditemui di wilayah Kolaka, pengetahuan dasar soal kebakaran bukan sekadar materi tambahan. Anak-anak yang tahu harus menghubungi siapa saat melihat asap, atau paham bahwa air bukan satu-satunya cara memadamkan api pada kasus tertentu, punya bekal yang bisa mereka bawa pulang ke rumah masing-masing — bahkan bisa jadi orang pertama yang mengingatkan keluarganya.Usai truk pemadam meninggalkan halaman sekolah, seragam anak-anak masih basah, tapi wajah mereka cerah. MPLS Ramah tahun ini ditutup bukan dengan upacara formal, melainkan dengan pelajaran keselamatan yang datang dalam bentuk permainan air dan deru sirine — cara belajar yang tampaknya akan lama diingat oleh siswa SD Negeri 1 Silea.
Halaman SD Negeri 1 Silea masih basah oleh embun ketika ratusan siswa berbaris rapi, Rabu pagi. Seragam batik bermotif merah marun berpadu celana dan rok senada, ditambah topi merah yang seragam, membuat halaman sekolah tampak seperti lautan warna merah di bawah pohon yang menjulang.Hari itu adalah hari ketiga Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru SD Negeri 1 Silea. Setelah dua hari sebelumnya diisi pengenalan lingkungan dan tata tertib, kegiatan hari ketiga difokuskan pada penguatan karakter dan pembiasaan baik yang akan terus dijalankan sepanjang tahun ajaran.Pagi dimulai seperti biasa, dengan lantunan Asmaul Husna yang bergema dari halaman sekolah. Sembari berdiri berjajar, anak-anak yang baru beberapa hari mengenakan seragam sekolah dasar ini menirukan lafal demi lafal nama-nama Allah yang dituntun oleh guru pendamping.Tak lama berselang, suasana berubah lebih riang. Anak-anak bergerak mengikuti irama Senam Anak Indonesia Hebat, sebuah senam yang belakangan digalakkan di sekolah-sekolah dasar sebagai bagian dari gerakan hidup sehat sejak usia dini. Sejumlah guru tampak turun langsung ke tengah barisan, memberi contoh gerakan sambil sesekali membetulkan posisi tangan atau kaki siswa yang masih kikuk mengikuti hitungan.Selesai berolahraga, giliran perut yang diperhatikan. Siswa mendapat menu makan sehat bergizi. Kegiatan ini sekaligus jadi pijakan untuk sesi berikutnya: sosialisasi tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, yang mencakup pola makan sehat, bangun pagi, hingga rajin beribadah dan gemar membaca.Dari sinilah agenda hari itu bergerak ke bagian yang mungkin paling ditunggu: pengenalan nilai-nilai Pancasila. Bukan lewat ceramah panjang di depan kelas, melainkan lewat praktik langsung. Satu per satu siswa diminta berdiri di depan kelas, membacakan kelima sila Pancasila sekaligus menyebutkan lambang yang mewakili tiap sila.Di salah satu ruang kelas, dinding yang dihiasi gambar pelangi dan bintang jadi saksi momen itu. Karpet hijau digelar di lantai, tempat sebagian siswa duduk bersila sambil menunggu giliran maju. Seorang guru memegang pengeras suara kecil, memandu satu demi satu nama dipanggil, sementara guru lain berjaga di sisi lain ruangan, sesekali membantu siswa yang lupa urutan sila atau tertukar menyebut lambangnya.Sesi itu bukan sekadar hafalan. Bagi anak usia enam atau tujuh tahun yang baru pertama kali berdiri sendiri di depan teman-temannya, membacakan Pancasila sambil menyebut lambang burung Garuda, Bintang, rantai, pohon beringin, kepala banteng, hingga padi dan kapas, adalah latihan kepercayaan diri sekaligus pengenalan dasar negara yang akan terus mereka pelajari hingga kelas enam nanti.Rangkaian hari itu ditutup dengan operasi semut, kegiatan bersih-bersih lingkungan sekolah yang melibatkan seluruh siswa baru. Sesuai namanya, anak-anak bergerak serempak memungut sampah kecil yang tercecer di halaman dan sekitar kelas, sebuah cara sederhana menanamkan kebiasaan menjaga kebersihan sejak hari-hari pertama mereka mengenal sekolah.Setelah operasi semut usai, kegiatan ditutup dengan agenda penutup seperti hari-hari sebelumnya, sebelum siswa dipersilakan kembali ke rumah masing-masing.Bagi orang tua yang mengantar dan menunggu di luar pagar sekolah, tiga hari MPLS ini menjadi gambaran awal bagaimana anak-anak mereka akan dibimbing selama enam tahun ke depan. Bukan hanya soal membaca dan berhitung, tapi juga soal berdiri tegak di depan teman-teman, melafalkan sila demi sila, dan belajar bahwa menjaga kebersihan dimulai dari memungut sampah sendiri.MPLS di SD Negeri 1 Silea akan terus berlanjut dengan agenda-agenda pembiasaan serupa, seiring anak-anak ini mulai terbiasa dengan rutinitas baru yang akan menjadi bagian dari keseharian mereka di sekolah.
Hari kedua Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD Negeri 1 Silea diisi dengan rangkaian kegiatan yang lebih dekat ke tubuh anak-anak sendiri: jantung mereka diperiksa, tinggi dan berat badan diukur, lalu perut diisi dengan sarapan bergizi sebelum masuk ke pelajaran soal aturan sekolah. Pagi itu dimulai dengan sesi yang disebut sekolah sebagai Salam Sapa Murid Baru. Di dalam kelas yang dindingnya penuh mural — ada Pojok Baca bertuliskan "Membaca Kunci Kesuksesan", pohon literasi berhias huruf dan angka, serta gambar bunga warna-warni di sekeliling jendela — anak-anak duduk berkelompok di atas tikar hijau dan orange. Sebagian mencoret-coret buku gambar dengan krayon, sebagian lain menunduk serius mengisi lembar kerja. Tas-tas ransel mereka berjejer begitu saja di lantai, beberapa masih tersampir di bahu.Setelah suasana kelas mulai cair, giliran Pertemuan Pagi Ceria digelar. Anak-anak yang mengenakan topi kertas bermotif biru putih duduk berbaris di atas tikar, sementara yang lain menempati bangku kayu sambil menenteng kotak susu. Seorang staf berdiri di depan memegang mikrofon, memandu jalannya acara di hadapan barisan bangku dan meja yang berjejer rapi.Dari pertemuan pagi itu, siswa kemudian dibawa satu per satu untuk menjalani cek denyut jantung serta pengukuran tinggi dan berat badan. Dalam salah satu sesi, seorang anak perempuan berdiri tegak di atas alat ukur sambil seorang guru mencatat hasilnya, dibantu dua staf lain. Selesai diperiksa, anak-anak diarahkan menyantap sarapan bersama dalam sesi Makan Sehat dan Bergizi. Di meja-meja kelas, kotak susu sudah tersedia untuk diminum bersama sebelum kegiatan berikutnya dimulai. Sesi ini sekaligus jadi jeda santai di tengah padatnya rangkaian MPLS hari kedua.Bersamaan dengan itu, sekolah juga memperkenalkan program Sekolahku ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) lewat suasana kelas itu sendiri. Dinding yang dicat biru muda dengan lukisan gunung, awan, dan bunga bukan sekadar hiasan; guru menjelaskan bahwa lingkungan yang tertata rapi adalah bagian dari kebiasaan yang ingin ditanamkan sejak hari pertama anak mengenal sekolahnya.Selain lingkungan fisik, anak-anak juga diajak mengenal Pengenalan Aturan Sekolah dan Aturan Berpakaian. Aturan semacam ini disampaikan langsung di sela-sela kegiatan, bukan lewat ceramah panjang, supaya lebih mudah diingat anak-anak yang baru sepekan mengenal lingkungan barunya.Menjelang siang, giliran Giat Bersih bertajuk "Operasi Semut" dilaksanakan. Nama itu merujuk pada cara kerja anak-anak yang membersihkan area kelas dan halaman sekolah secara bersama-sama, layaknya semut yang bergerak serentak dalam kelompok kecil. Kegiatan ini jadi penutup fisik dari rangkaian hari itu, sebelum semua siswa kembali berkumpul untuk sesi terakhir.Hari kedua MPLS resmi ditutup dengan doa bersama. Anak-anak yang tadinya berpencar di atas tikar dan bangku kembali duduk berkumpul, sebelum akhirnya dibubarkan untuk kembali ke rumah masing-masing.Bagi banyak dari mereka, hari itu mungkin akan diingat bukan karena pelajaran di buku, tapi karena giliran berdiri di alat ukur tinggi badan, atau kotak susu yang diminum bersama teman sebangku yang baru sehari dikenal.
Halaman SD Negeri 1 Silea berubah warna sejak pagi. Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) resmi dimulai Senin, 13 Juli 2026. Kegiatan dibuka dengan salam sapa kepada murid baru, lalu dilanjutkan upacara bendera. Barisan anak-anak dipisah antara laki-laki dan perempuan bernyanyi bersama lagu MPLS. Sebagian orang tua ikut berdiri di pinggir lapangan, menyaksikan sambil sesekali merekam momen anak mereka lewat ponsel.Setelah upacara, suasana berubah menjadi lebih santai. Anak-anak masuk ke ruang kelas untuk sesi pengondisian dan jeda ceria. Di salah satu kelas yang dihiasi gambar pelangi dan pojok baca bertulisan "Membaca Kunci Kesuksesan", puluhan siswa berdiri sambil menari mengikuti gerakan yang dipandu guru. Mereka mengenakan topi kertas putih-biru bertuliskan ucapan selamat datang, sebagian bergaya seperti mahkota kecil.Sesi kenali diri menjadi salah satu momen yang ditunggu. Satu per satu murid baru maju ke depan kelas, menyebutkan nama mereka sendiri di hadapan teman-teman baru. Ada yang lancar, ada pula yang malu-malu sampai perlu dibimbing gurunya. Dari sesi ini pula anak-anak mulai mengenal wajah teman sekelas dan guru yang akan mendampingi mereka setahun ke depan.Rangkaian MPLS hari pertama berlanjut dengan makan sehat dan bergizi bersama, lalu tur mengenal lingkungan sekolah. Anak-anak diajak berkeliling ke ruang kantor, perpustakaan, musala, dan toilet. Ini adalah bagian dari upaya membuat mereka tidak asing lagi dengan lingkungan barunya sejak hari pertama. Setelah itu ada giat bersih bertajuk "Operasi Semut", saat murid-murid diminta memungut sampah sisa makanan MBG di dalam kelas dan membuangnya ke tempat sampah.Menjelang siang, kegiatan ditutup dengan sesi refleksi ceria. Anak-anak kembali bernyanyi bersama guru, kali ini menyanyikan lagu MPLS yang liriknya sudah mereka hafal sejak pagi. Suasana riuh sempat pecah ketika sejumlah siswa ikut bergoyang mengikuti irama, sebelum akhirnya kegiatan diakhiri dengan doa bersama.Yang menarik, hampir sepanjang hari para orang tua tidak beranjak dari area sekolah. Mereka duduk di pinggir lapangan, berdiri di dekat pintu kelas, bahkan ada yang ikut berbaris di belakang anak-anaknya saat upacara berlangsung. Kehadiran mereka bertahan sampai seluruh rangkaian acara selesai, sesuatu yang menurut pengamatan di lapangan cukup jarang terjadi pada MPLS tahun-tahun sebelumnya.Antusiasme itu terlihat dari raut wajah anak-anak yang pulang sambil masih memegang topi merah dan tanda pengenal mereka. Bagi banyak dari mereka, hari itu adalah kali pertama mengenakan seragam sekolah dasar secara resmi, kali pertama berdiri di depan kelas menyebut nama sendiri, dan kali pertama merasakan riuhnya lapangan sekolah yang bukan lagi milik orang lain.MPLS di SD Negeri 1 Silea dijadwalkan berlanjut pada hari-hari berikutnya dengan agenda pengenalan yang lebih mendalam, termasuk pengenalan tata tertib sekolah dan kegiatan belajar perdana di kelas masing-masing.
Hari Senin (13/7/2026) lusa, ribuan anak akan melangkahkan kaki ke gerbang sekolah baru mereka. Buat para orang tua, momen hari pertama sekolah ini kadang bikin deg-degan. Masih ingat kan dengan zaman orientasi siswa yang kaku, membosankan, atau bahkan bikin stres? Nah, buang jauh-jauh bayangan itu kalau anak Anda masuk ke SD Negeri 1 Silea.Untuk tahun ajaran 2026/2027 ini, SDN 1 Silea punya cara yang jauh lebih hangat dan asyik untuk menyambut murid baru kelas satu. Mengusung konsep MPLS Ramah, sekolah ini benar-benar ingin mewujudkan slogan mereka: Sekolahku Menyenangkan!Selama enam hari penuh, mulai dari 13 hingga 18 Juli 2026, anak-anak tidak sekadar disuruh duduk diam mendengar ceramah. Mereka akan diajak bermain, bereksplorasi, dan belajar dengan prinsip ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).Dari Cek Jantung Sampai "Bahaya Permen Orang Tak Dikenal"Kalau kita melihat jadwal kegiatan yang sudah disiapkan pihak sekolah, pendekatannya sangat mengerti dunia anak-anak.Di dua hari pertama, fokus utamanya adalah kenyamanan dan kesehatan. Selain diajak keliling mengenal perpustakaan hingga toilet, anak-anak juga diajak makan sehat bergizi bareng dan bersih-bersih seru lewat "Operasi Semut". Yang patut diacungi jempol, ada sesi khusus untuk cek denyut jantung, serta pengukuran tinggi dan berat badan anak. Langkah awal yang sangat bagus untuk memantau kesehatan fisik siswa!Masuk ke pertengahan minggu, materinya makin menarik dan relate dengan zaman sekarang. Alih-alih pakai bahasa yang berat, nilai-nilai karakter diajarkan lewat story telling "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat".Pihak sekolah juga memasukkan edukasi keselamatan yang sangat krusial tapi dikemas ala anak-anak. Misalnya, mereka diajarkan adab dan batasan dalam bermain game digital, serta sosialisasi bahaya NAPZA (Narkoba) yang dibahasakan dengan sangat mudah dicerna: "Bahaya Permen dari Orang Tak Dikenal". Ini cara yang cerdas agar anak waspada tanpa harus ditakut-takuti.Ada Pemadam Kebakaran di Hari Terakhir!Keseruan MPLS ini ditutup dengan meriah di hari Jumat dan Sabtu. Setelah diajak unjuk minat dan bakat serta dikenalkan dengan berbagai ekstrakurikuler (seperti Pramuka, Karate, Pencak Silat, dan PMI), anak-anak bakal disuguhkan Gelar Karya Seni.Bukan cuma itu, hari terakhir (Sabtu, 18 Juli) dipastikan bakal jadi hari favorit karena akan ada sosialisasi profesi yang mengundang petugas Pemadam Kebakaran langsung. Bisa dibayangkan betapa antusiasnya anak-anak melihat hal ini.Mencetak Generasi "Wonua Mekongga" yang HebatSemua rangkaian yang tertata apik ini sebenarnya bermuara pada satu tujuan besar. SDN 1 Silea sedang berlari mengejar visi mereka untuk mencetak generasi Wonua Mekongga yang cerdas, berakhlak mulia, dan peduli lingkungan.Lewat MPLS ini, sekolah mulai menanamkan pondasinya. Mulai dari kebiasaan ibadah (yang nantinya akan rutin lewat Sholat Dhuha berjamaah), membangun kemandirian, sampai memantik ekosistem literasi anak sejak dini.Kejutan Spesial untuk Ayah & Bunda: Pantau Anak via Aplikasi "Si Anak Hebat"Ternyata, inovasi SDN 1 Silea tahun ini tidak berhenti pada kegiatan siswanya saja. Di momen MPLS ini, sekolah juga memberikan lompatan inovasi digital untuk para wali murid dengan memperkenalkan Aplikasi Si Anak Hebat!Menyadari bahwa kolaborasi yang transparan dengan orang tua adalah kunci suksesnya pendidikan anak, aplikasi ini hadir sebagai jembatan sinergi antara sekolah dan keluarga. Fitur-fitur unggulannya dirancang untuk memudahkan Ayah dan Bunda memantau perkembangan anak setiap harinya:Presensi Real-Time: Tidak perlu was-was, Ayah Bunda akan menerima notifikasi langsung ke HP saat anak sampai di sekolah melalui sistem presensi QR Code.Jurnal Karakter: Pantau penerapan "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat" (seperti ibadah, olahraga, dan gemar belajar) dari rumah.Izin & Laporan Praktis: Anak sedang sakit atau ada keperluan? Ajukan izin dengan mudah langsung dari aplikasi tanpa repot.Jadi, buat ayah dan bunda yang bersiap mengantar anaknya di hari Senin besok, rasanya bisa tersenyum lega. Anak-anak Anda tidak sekadar masuk ke sebuah gedung sekolah, tapi melangkah ke dalam lingkungan yang aman, mendukung, dan pastinya menyenangkan.Jangan lupa hadir ya, Ayah dan Bunda di momen berharga ini! Mari bersama wujudkan "Si Anak Hebat" untuk generasi emas Indonesia. (Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi website resmi di https://sdn1silea.sch.id).Selamat menyambut tahun ajaran baru 2026/2027!
Prestasi membanggakan kembali diukir oleh siswa-siswi SD Negeri 1 Silea. Kali ini, delegasi sekolah berhasil meraih Medali Emas dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Kabupaten yang diselenggarakan pada awal bulan Juni ini.Keberhasilan ini merupakan buah dari komitmen sekolah dalam meningkatkan prestasi akademik dan menghidupkan budaya literasi serta pembinaan intensif. Kepala Sekolah SDN 1 Silea, Ibu Indrawati Burhan, S.Pd, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada siswa yang bersangkutan serta para guru pembimbing yang telah bekerja keras."Ini adalah bukti nyata bahwa dengan disiplin, ketangguhan, dan pembinaan yang konsisten melalui ekosistem belajar yang sehat, anak-anak kita mampu bersaing di tingkat yang lebih tinggi. Semoga prestasi ini menjadi pemantik semangat bagi siswa-siswi lainnya untuk terus belajar dan berinovasi," ujar beliau.Dengan hasil ini, perwakilan dari SDN 1 Silea dipastikan akan melaju ke tingkat Provinsi untuk mewakili daerah. Seluruh keluarga besar sekolah memohon doa dan dukungan dari orang tua murid serta masyarakat agar anak-anak kita kembali menorehkan hasil terbaik di kompetisi selanjutnya. Tetaplah menjadi Si Anak Hebat!
Belum ada berita pada kategori ini.
Menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar dengan ekosistem digital terintegrasi untuk mendukung proses belajar mengajar secara interaktif.
Kami mendukung penuh pengembangan bakat, minat, keterampilan kepemimpinan, dan kemandirian siswa melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler.
Latihan: Sabtu Sore
Menanamkan jiwa disiplin, kemandirian, cinta tanah air, dan kerja sama kelompok melalui kegiatan kepanduan yang terstruktur.
Latihan: Rabu Sore
Membangun ketangkasan fisik, konsentrasi, dan kepercayaan diri siswa melalui seni bela diri karate yang terlatih dan berdisiplin.
Latihan: Jumat Sore
Melestarikan seni bela diri asli Nusantara sekaligus membentuk karakter tangguh, percaya diri, dan berjiwa sportif pada siswa.
Latihan: Kamis Sore
Menumbuhkan jiwa sosial, empati, dan keterampilan pertolongan pertama sebagai bagian dari gerakan kemanusiaan PMI.
Data jumlah peserta didik SD Negeri 1 Silea Tahun Ajaran 2025/2026.
Posisikan kursor atau ketuk tanggal yang ditandai warna untuk melihat agenda ujian, libur nasional, dan acara penting sekolah. Anda juga dapat mengunduh berkas kalender untuk disinkronkan ke HP.
Punya pertanyaan terkait PPDB atau ingin menyampaikan aduan/saran? Silakan isi formulir atau hubungi nomor kontak resmi kami di bawah ini.